Disiplin, atau Korban Akan Terus Berjatuhan

Jakarta –

Untuk memastikan penyebab suatu penyakit, kita harus mempertimbangkan tidak hanya kasus per individu, tetapi juga secara umum tentang karakteristik sebuah epidemik. Dalam jaring penyebab itu dikenal istilah penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Selanjutnya, level penyebab dikelompokkan menurut:

1. Macrolevel; meliputi sosial, ekonomi, determinan kultural
2. Individual level; meliputi personal, perilaku, dan determinan fisiologi
3. Microlevel; meliputi sistem organ, jaringan, sel, dan determinan molekular

Intervensi yang berbeda berdasarkan levelnya memberi dampak yang berbeda dan kecepatan yang berbeda pula.

Intervensi yang bersifat Macrolevel bersifat coersive (pemaksaan); hasilnya cepat, cocok untuk situasi pandemik Covid-19, meski tidak bersifat berkelanjutan.

Intervensi level kedua bersifat edukatif personal, membangun literasi sosial. Waktunya lama, tidak cocok untuk pandemik –kelamaan, bisa habis populasinya, intervensi tidak berdampak. Apalagi dengan kultur Indonesia yang sedikit “keras kepala”.

Intervensi level tiga tergantung pada teknologi, dan biayanya besar. Tapi pada situasi ini mesti dilaksanakan, misalnya skrining. Mesti diketahui pula bahwa skrining itu adalah upaya pencegahan level 3 dalam 5 level prevention. Jadi skrining itu bukan penegakan diagnosis; masih perlu dilanjutkan dengan pengujian PCR untuk menentukan seseorang itu positif atau negatif Covid-19.

Dalam ilmu Epidemiology Surveillance, jumlah kasus yang meningkat secara eksponensial itu sebenarnya masuk kategori epidemi semu. Karena lebih banyak dipengaruhi oleh kapasitas laboratorium untuk memeriksa sampel. Jadi, semakin banyak laboratorium yang tersedia tentu jumlah kasus akan semakin banyak.

Dengan kata lain, di antara kita sebenarnya Covid-19 ini sudah ada dengan berbagai manifestasi a-simptomatik (tanpa gejala) hingga positif.

Bicara mengenai Covid-19 ini, daya tularnya tinggi tapi Case Fatality Rate (CFR) total di dunia rendah, yakni 3 – 5%. Itu pun pada populasi yang rentan karena ada penyakit penyerta. Di Indonesia, Covid-19 diprediksi akan menembus angka batas psikologis 500, 1000, hingga 2.500.000 kasus (10% dari populasi).

Sebagai negara kepulauan, ada baiknya Indonesia menerapkan lockdown berdasarkan kluster kasus, sehingga roda ekonomi yang menopang wilayah terkunci tetap dapat terkendali, dan sharing resources SDM sistem kesehatan dapat mendukung.

Secara kultural masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terbuka, suka berkumpul, menyukai kerumunan, dan terkenal keramahannya. Ini bisa menjadi pintu transmisi Covid-19 yang cepat. Dengan angka reproduksi Covid-19 sebesar 2,6 itu berarti epidemik gelombang kedua dan ketiga akan terus berlangsung pada komunitas yang rentan.

Sebagai penutup, kami menyampaikan maklumat tentang penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia sebagai berikut :

1. Di layanan kesehatan mana pun tenaga medis bertugas, disiplinlah, ikuti protokol pengendalian Covid-19, sebagaimana yang telah dirilis oleh WHO dan pemerintah.

2. Negeri ini sedang sakit, untuk itu bagi yang tidak ada keperluan mendesak, lakukan #StayAtHome dan #WorkFromHome

3. Memilih tinggal di rumah sendiri atau di bangsal RS? Bangsal RS sudah penuh, petugas kesehatan terbatas. Ingat di Italia, yang dirawat hanya yang ada potensi untuk sembuh tinggi, yang tidak dibiarkan meninggal. Mau?

4. Bila Anda tidak mau disiplin dalam situasi ini, korban akan terus berjatuhan

5. APD dan sarana prasarana penanganan Covid-19 segera disiapkan untuk semua petugas kesehatan, jangan diekspor.

6. Seluruh anak bangsa bertanggung jawab untuk situasi ini. Ayo, lakukan yang terbaik sesuai peran masing-masing.

7. Penggunaan masker itu sejatinya perlindungan semu. Mestinya pemakai masker adalah bagi yang sakit supaya tidak menjadi sumber penularan, dan petugas kesehatan yang kontak langsung dengan pasien. Semakin memakai masker akan semakin sering menyentuh muka, dan potensi tertularnya semakin tinggi. Jadi jaga kebersihan tangan, jaga etika saat batuk, jaga jarak, dan jaga doanya!

8. Lindungi diri Anda, keluarga, dan masyarakat. Perkuat kekebalan kelompok. Kurangi faktor risiko. Perbaiki imunitas tubuh Anda. Hindari paparan atau interaksi sosial berisiko.

Prof Ridwan Amiruddin Ketua Umum PP Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi), Guru Besar Ilmu Epidemiologi FKM Universitas Hasanuddin Makassar

Sumber
detik.com
Maklumat PERSAKMI Mengenai Pandemi COVID-19

happy wheels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares