Modifikasi Menu Bubur Asyura ala Gayo untuk Kesehatan Masyarakat yang Lebih Baik

Blang Pegayon, 30 September 2017.

Terdengar riuh suara ibu-ibu yang bercengkerama saling bersahutan. Sesekali terdengar teriakan dan jeritan anak-anak kecil sambil berlarian. Ibu-ibu terlihat berkerumun, mengelilingi ragam bahan makanan.

Mulutnya terus saja melontarkan candaan, sambil tangannya lincah tak berhenti mengolah bahan makanan dengan terampil. Dengan beralaskan tikar, mereka berkumpul di bawah meunasah, gedung pertemuan milik desa.

Sementara di sudut lain ada seorang ibu yang terlihat penuh tenaga di depan wajan raksasa yang ditaruh di atas kompor modifikasi berbahan bakar kayu. Ibu itu mengaduk bubur berbahan kacang hijau yang tak berhenti mengeluarkan gelembung-gelembung udara, tanda bubur sudah hampir matang.

Ibu-ibu itu, adalah para perempuan Gayo yang sedang mempersiapkan menu bubur Asyura untuk peringatan tanggal 10 Muharam.

Adegan ini berlangsung di Desa Tetingi, Kecamatan Blang Pegayon, Kabupaten Gayo Lues. Adalah sebuah rutinitas bagi para perempuan Gayo, di desa yang seratus persen penduduknya muslim itu, untuk bergotong royong, mengolah makanan dalam rangka peringatan hari besar Islam atau acara adat Gayo.

Kali ini, dalam peringatan 10 Muharam, menu utama adalah bubur Asyura. Menu utama bubur Asyura terdiri dari pulut (ketan) putih, pulut hitan, dan kacang hijau.

“Iyaa… itu di atas bubur pulut hitam, pulut putih dan kacang hijau dikasih (ditaburi) sedikit dengan biji-bijian. Ada kacang tanah, kedelai dan biji jagung,” terang Umi Salamah, 34 tahun, yang biasa ikut urun tenaga pada hajatan bersama seperti ini.

Menjelang sore, penduduk Desa Tetingi berkumpul di atas, lantai dua, meunasah untuk memanjatkan doa, sebelum terakhir berbagi bubur Asyura yang telah dimasak siang tadi.

 

 

Status Gizi Balita di Kabupaten Gayo Lues

Survei terakhir Riset Kesehatan Dasar oleh Kementerian Kesehatan dilakukan pada tahun 2013. Hasilnya menunjukkan bahwa di Kabupaten Gayo Lues masih ditemukan masalah gizi balita yang cukup besar, khususnya balita pendek atau stunting.

Prevalensi balita pendek dan sangat pendek, atau bisa disebut stunting, di Gayo Lues mencapai 49,7%! Artinya, hampir separuh balita di Gayo Lues pendek.

Prevalensi stunting di Gayo Lues ini jauh lebih tinggi dibanding prevalensi Provinsi Aceh yang mencapai 41,5%. Sedang angka nasional berada pada kisaran 37,2%.

Menurut BPS, jumlah penduduk di Kabupaten Gayo Lues pada tahun 2017 ada sejumlah 89.500 jiwa. Apabila jumlah balita sekitar 10% dari total jumlah penduduk, maka ada sekitar 4.448 balita yang mengalami stunting atau pendek. Wow! Bukan jumlah yang sedikit saudara.

Menurut WHO angka prevalensi stunting yang menunjukkan indikator tinggi badan per umur (TT/U), dikatakan tinggi apabila berada pada kisaran prevalensi 30-39%. Sedang di atas 40% dimasukkan dalam kategori sangat tinggi.

Prevalensi balita stunting di Gayo Lues sudah mencapai 49,7%, artinya telah terjadi masalah kesehatan masyarakat yang berat di Kabupaten Gayo Lues.

 

Modifikasi Menu Bubur Asyura

Tingginya prevalensi balita stunting di Gayo Lues membuat saya berpikir. Apakah kita bisa memanfaatkan momentum Asyura?

Saya berpikir untuk kita dapat memodifikasi menu makanan bubur Asyura. Modifikasi sesuai dengan kebutuhan untuk balita stunting yang memerlukan kandungan protein dengan porsi lebih.

Menu bubur Asyura yang ada saat ini cenderung lebih banyak porsi karbohidratnya. Porsi kacang-kacangan hanyalah sedikit, hanya penghias saja.

Bila memang disepakati untuk intervensi melalui modifikasi bubur Asyura, maka porsi bahan makanan yang tinggi protein ditambah porsinya. Atau kalau perlu dengan menambah menu lain yang tinggi protein. Artinya bukan hanya bubur ‘manis’ saja, tetapi bisa dengan menyajikan bubur ‘gurih’ dengan porsi lauk yang lebih.

Selain modifikasi menu makanan, momentum berkumpulnya masyarakat Gayo di meunasah pada saat doa sore bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan tentang kondisi gawatnya balita Gayo saat ini. Selain tentu saja disertai penjelasan tentang bagaimana menu yang baik, yang seimbang kandungan gizinya, untuk balita Gayo.

***

Upaya modifikasi menu pada satu peringatan hari besar Islam yang temporer seperti bubur Asyura ini, tentu saja masih sangat jauh bila langsung dihubungkan dengan peningkatan status gizi balita.

Modifikasi bubur Asyura hanyalah sekedar contoh kecil. Dengan diikuti penjelasan yang baik, menu modifikasi itu bisa menjadi pembelajaran dan inspirasi yang baik bagi ibu-ibu Gayo dalam mengolah makanan di rumah yang memenuhi semua unsur gizi dengan lebih baik.

Tentu saja modifikasi menu makanan temporer seperti ini tidak hanya berhenti pada satu menu peringatan hari besar saja, dan bukan pula hanya untuk di Gayo Lues saja. Republik ini terdiri dari banyak suku, ada lima ratus suku lebih, yang semuanya memiliki ritual dan kearifan lokalnya masing-masing. @dl

 

 

happy wheels

2 thoughts on “Modifikasi Menu Bubur Asyura ala Gayo untuk Kesehatan Masyarakat yang Lebih Baik

  1. eyang jenar

    Mantaap ……… lanjutkan untuk makanan tradisional lainya yang familiar di masyarakat ……. jangan lupa kandungan gizinya dianalisa agar modifikasi tepat dan memenuhi kandungan gizinya dan yang penting RESEP MASAKANNYA dibuat brosur untuk bahan penyuluhan…….. SUKSES SELALU

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares