Kearifan Lokal; Keluarga Berencana ala Suku Tengger di Ngadiwana

 

02Keluarga Berencana (KB), yang sejak awal diluncurkan diklaim sebagai sebuah gerakan masyarakat, seakan mati suri pada saat ini. Bukan lagi sebuah gerakan utama pasca Soeharto lengser. Tidak lagi menjadi program prioritas, dan tentu saja pertumbuhan penduduk mulai bergerak naik lagi.

Tapi hal tersebut tidak terjadi pada masyarakat di Desa Ngadiwana, Kecamatan Losari, Kabupaten Pasuruan. Warga Ngadiwana yang seratus persen dihuni oleh suku Tengger ini mempunyai kearifan tersendiri, yang tanpa disadari turut mencegah terjadinya ledakan populasi.

Suku Tengger di Ngadiwana mempunyai kearifan lokal untuk membatasi jumlah anak hanya dua saja pada setiap keluarga. Mengapa demikian? Bagaimana bisa berhasil meski tanpa alat KB?

03Orang Tengger Ngadiwana bisa dibilang 99% adalah petani ladang, sisanya menjadi tukang ojek, PNS, atau kerja serabutan, meski tetap saja mereka juga peladang. Profesi sebagai petani ladang inilah yang ternyata membuat mereka membatasi jumlah anak dalam setiap keluarga. Hal ini berhubungan dengan masalah kepemilikan lahan dan hak waris.

Pada saat anak mereka nanti menikah dengan anak keluarga Tengger lain, maka pada akhirnya kepemilikan tanah ladang keluarga muda akan tetap dengan luas tanah yang dimiliki oleh keluarga induknya, karena masing-masing membawa setengah luas lahan orang tuanya. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kecukupan penghasilan dari tanah ladang mereka, secara turun temurun.

Meski secara tradisi dibatasi untuk hanya memiliki dua anak, pasangan suku Tengger tidak kehilangan romantisme dalam mengelola rumah tangganya. Ada sesuatu yang ‘nganu’ saat mereka di kebun sayur. (ADL)

Penasaran dengan “Romantisme Kebun Sayur” ala suku Tengger? baca tautan berikut di sini

 

happy wheels

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Shares