Pos Gizi Terpadu (Posgidu) dan Pos Gizi Keliling (Posgiling) sebagai Upaya Teroboson Puskesmas Jrengik dalam Penanggulangan Kasus Gizi Buruk

Salah satu tujuan pembangunan di era millennium yang telah tercantum dalam kesepakatan MDG’s adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat yang di dukung oleh bidang kesehatan. Dimana masalah kesehatan dewasa ini sangat kompleks terjadi di setiap lapisan masyarakat, salah satunya merupakan masalah-masalah gizi yang tak lepas dari masalah Gizi Buruk dan Gizi Kurang. Tercatat 13,8 % balita di Indonesia mengalami masalah Gizi buruk gizi kurang maupun gizi buruk (Riskesdas tahun 2007).

Realitas terakhir masih banyaknya jumlah balita yang menderita gizi buruk dan gizi Kurang, tidak terkecuali di wilayah kerja Puskesmas Jrengik juga terdapat masalah gizi buruk dan gizi kurang. Pada awal tahun 2014 tercatat 24 kasus gizi buruk dan 32 kasus gizi kurang berdasarkan indikator berat badan menurut umur (BB/U) dari hasil penimbangan yang dilakukan di Posyandu.

Salah satu penyebab masih tingginya kasus balita yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang karena tingkat penemuan dini (deteksi dini) terhadap kasus tersebut yang masih rendah. Seandainya balita yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang telah terdeteksi dan ditangani lebih dini maka prevalensinya dapat dipastikan akan menurun.

Salah satu upaya dan terobosan yang dilakukan oleh Puskesmas Jrengik dalam upaya penurunan angka prevalensi gizi buruk adalah mendirikan ruang perawatan balita gizi buruk (Therapeutic Feeding Centre/TFC). Berbagai permasalahan yang didapatkan terkait perawatan balita gizi buruk di TFC, mulai dari tingkat kemauan dan kesadaran ibu balita untuk merawat anaknya di TFC yang masih rendah sampai dengan dukungan tokoh masyarakat maupun aparat desa yang masih rendah. Sebagaimana diketahui bahwa perawatan yang harus dijalani oleh balita gizi buruk di TFC berkisar 2-3 bulan, hal ini sangat memberatkan orang tua balita yang rata-rata mata pencahariannya petani dan peternak. Mereka merasa berat apabila terlalu lama meninggalkan rumah dan ternak mereka, sehingga hal inilah yang menjadi alasan mereka menolak untuk merawat anaknya di TFC.

Menyikapi hal ini, Puskesmas Jrengik terus berupaya menemukan terobosan lain dalam penanganan balita gizi buruk khususnya balita gizi buruk yang menolak dirawat di TFC. Berbagai terobosan lain yang mulai diuji coba oleh Puskesmas Jrengik adalah Program Surveilans Gizi Berbasis Masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Uji coba ini dilakukan  di 3 desa wilayah kerja Puskesmas Jrengik yaitu Desa Jrengik, Desa Kotah dan Desa Bancelok. Adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan adalah membentuk Tim Kewaspadaan Gizi, updating data sasaran balita gizi buruk, pelacakan balita gizi buruk, mapping data sasaran gizi buruk, surveilans gizi oleh kader, Kelas Gizi melalui Pos Gizi Terpadu (POSGIDU) dan Pos Gizi Keliling (POSGILING). Hasil uji coba menunjukkan terjadi penurunan jumlah balita gizi buruk menjadi gizi kurang dan gizi normal.

Tim Kewaspadaan Gizi dibentuk sebagai upaya pembinaan dan pemantauan dalam penatalaksanaan gizi buruk. Tim ini dituangkan dalam SK Kepala UPTD Puskesmas Jrengik Nomor: 440/101/434.102.11/2014 tentang Pembentukan Tim Kewaspadaan Gizi. Adapun susunan Tim terdiri dari programer gizi, programer surveilans, programer promosi kesehatan, dokter Puskesmas, dan bidan desa.

Sedang uraian tugas Tim secara rinci adalah

  • Merencanakan Sistem Kewaspadaan Dini terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi Buruk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jrengik.
  • Melaksanakan updatingdata sasaran balita gizi kurang dan gizi buruk, membuat pemetaan sasaran, surveilans gizi, penyuluhan gizi dan penanggulangan kasus balita gizi kurang dan gizi buruk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jrengik.
  • Melaksanakan supervisi dan pembinaan melalui Pos Gizi Keliling (POSGILING) dan Pos Gizi Terpadu (POSGIDU).
  • Membuat laporan pertanggungjawaban kepada Kepala UPTD Puskesmas.

Sebagai upaya untuk mendapatkan data sasaran yang benar-benar valid dan akurat, sehingga intervensi yang diberikan tepat sasaran, maka perlu dilakukan updating data sasaran balita gizi buruk. Updating data sasaran dilakukan minimal sekali dalam setahun, baik dilakukan pada awal tahun, pertengahan tahun maupun disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang.

Tahap selanjutnya setelah dilakukan updating adalah melakukan kegiatan pelacakan terhadap balita gizi buruk  yang ditemukan pada saat updating data. Kegiatan ini dilakukan oleh Tim dari Puskesmas (Tim Kewaspadaan Gizi), tujuannya untuk memastikan apakah balita tersebut benar-benar status gizinya tergolong buruk atau kurang, sehingga dapat segera dilakukan intervensi/tindak lanjut yang secara cepat dan  tepat. Data balita yang mengalami gizi buruk selanjutnya dilakukan mapping (pemetaan sasaran). Hal ini bertujuan untuk mempermudah petugas kesehatan dalam memantau wilayah mana yang menjadi kantong balita gizi buruk serta mempermudah dalam koordinasi dan penanggulangannya.

Surveilans gizi dilakukan setiap minggu oleh kader kesehatan dengan mengunjungi rumah balita gizi buruk serta mengadakan pengamatan secara terus-menerus terhadap tumbuh kembang balita gizi buruk  dan kurang yang merupakan kelompok binaannya masing-masing. Kegiatan surveilans gizi difokuskan pada pengukuran antropometri (Berat Badan, Panjang Badan/Tinggi Badan, Lingkat Lengan Atas (LILA), pemantauan porsi PMT Pemulihan (Pan-Enteral) yang dikonsumsi balita, serta berbagai bentuk keluhan/penyakit penyerta yang dialami balita. Hasil pemantauan kader dicatat dalam buku harian kader dan kartu Tumbuh Kembang Balita yang ada di rumah masing-masing balita. Apabila saat surveilans gizi ditemukan keluhan/kelainan (seperti muntah, diare, panas dan sebagainya), kader harus segera melaporkan kepada bidan desa untuk segera ditindaklanjuti. Selanjutnya bidan desa melaporkan hasil pemeriksaannya pada Tim Kewaspadaan Gizi untuk mendapatkan penanganan gizi dan medis segera.

Kegiatan kelas gizi dilaksanakan di Pos Gizi Terpadu (Posgidu) dimana fokus kegiatannya adalah penyuluhan gizi, cara membuat formula gizi yang bersumber dari makanan lokal, hypno parenting (cara mengasuh balita secara benar), serta cara mengelola pekarangan rumah melalui tanaman yang bergizi. Dalam setiap kelompok kelas gizi harus ada yang ditunjuk menjadi penanggung jawab kegiatan, bisa dari anggota kelompok atau bisa dari kader Posyandu. Jumlah anggota dalam satu kelompok sebanyak 10-15 orang terdiri dari ibu balita dan balita gizi buruk/kurang atau menyesuaikan dengan keadaan.

 

Kontribusi Abdul Cholik, SKM., M.Kes (Ka. UPTD Puskesmas Jrengik, Kabupaten Sampang)

 

happy wheels

22 thoughts on “Pos Gizi Terpadu (Posgidu) dan Pos Gizi Keliling (Posgiling) sebagai Upaya Teroboson Puskesmas Jrengik dalam Penanggulangan Kasus Gizi Buruk

  1. setia budi

    Semoga masyarakat khususnya kecamatan Jrengik, dengan adanya posgiling ini, orang awam yg tidak memperhatikan gizi anak2nya, bisa semakin paham dan mengerti, semoga sukses

    Reply
  2. Alfi

    Semangat…. Tuntaskan anak gibur di Jrengik, anak adalah penerus bangsa, jadikan mereka berkualitas dengan memperhatikan Gizi nya sejak kecil bahkan sejak dalam kandungan.

    Reply
  3. cholik

    Semoga terobosan & inovasi melalui POSGIDU & POSGILING yang dilakukan UPTD Puskesmas Jrengik yg terbukti nyata, efektif & efisien sekali menurunkan prevalensi gizi buruk, bisa diaplikasikan di seluruh Indonesia sehingga Indonesia bisa terbebas dari masalah Gizi Buruk… BRAVO PUSKESMAS JRENGIK

    Reply
  4. anugrah vellah cs

    Semoga masyarakat jrengik sehat terlepas dari gibur dan menjadi masyarakat yg berkualitas…amiin

    Reply
  5. Nurul fadhilah

    Anak adalah anugerah terindah yg harus kita jaga…jauhkan mereka dr gibur…ayo tuntaskan gibur…anak sehat…jrengik sehat…bangsa sehat…

    Reply
  6. subaidah

    Semangat terus jaya buat pak kholik semoga inflasinya berjalan sesuai dengan harapan. Sehat terus masyarakat jrengik

    Reply
  7. Huzaimah

    Semoga masyarakat jrengik mnjadi orang yang sadar gizi serta posgindu dan posgiling terealisasi dgn baik sehingga menekan angka gizi buruk..
    Semangat untuk Indonesia sehat

    Reply
  8. Erna

    Bravo puskesmas jrengik..! mempersiapkan, memelihara dan mempertahankan agar setiap orang terutama kelompok ibu hamil, bayi , ibu menyusui anak balita mempunyai status gizi baik dapat hidup sehat dan produktif akan terwujud dg progaram inovativ “Posgiling” . Sip??

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares