Belajar dari Italia, Indonesia Bisa Melawan COVID-19

Prof Dr Ridwan Amiruddin Ketua Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) meminta masyarakat Indonesia belajar dari Italia.

Warga di Italia yang membandel tidak mau disiplin untuk di rumah saja dan bekerja dari rumah menyebabkan penuhnya tingkat hunian ruang perawatan di rumah sakit sehingga melebihi kapasitas.

Saat ini jumlah pasien positif Covid-19 di Italia lebih dari 86 ribu dengan kasus fatalitas atau kematian mencapai lebih dari 9 ribu jiwa. Padahal fasilitas kesehatan yang ada tidak sebanyak itu.

Ketika ruangan sudah mulai penuh, tenaga medis dan peralatan medis juga terbatas, maka seleksi perawatan pasien di Italia dikhususkan untuk pasien Covid-19 yang punya potensi sembuh tinggi.

“Siapa yang berpotensi sembuh, itu yang dilayani. Yang lainnya dibiarkan meninggal dengan sendirinya. Mau seperti itu? Pilih tinggal di rumah atau di bangsal rumah sakit? Bangsal rumah sakit sudah penuh,” ujarnya.

Dia mengutip pernyataan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang mengindikasikan bahwa layanan fasilitas kesehatan di Indonesia sekarang sudah mulai tidak seimbang lagi.

Antara jumlah pasien yang masuk dengan tingkat ketersediaan bed (tempat tidur), peralatan medis seperti ventilator dan sebagainya, serta jumlah tenaga medis yang ada, sudah tidak seimbang.

“Maka kalau dalam dua pekan ke depan kasusnya meningkat, bukan tidak mungkin apa yang terjadi di Italia akan terjadi di Indonesia. Mari, kita bisa menghadapi ini bersama-sama,” ujarnya.

Untuk menghadapi bersama, pertama-tama yang dia tekankan, masyarakat harus disiplin menerapkan stay at home (di rumah saja) dan work from home (bekerja dari rumah) seperti yang disarankan WHO.

Prof Ridwan mengatakan, ada lima hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi Covid-19. Selain tinggal di rumah, masyarakat harus rajin mencuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer.

“Kedua, jangan sering menyentuh muka. Lalu pakai siku untuk menutup pada saat bersin dan batuk. Serta menjaga physical distancing. Kalau lima hal ini kita lakukan, kita bisa lewati ini bersama-sama,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mengimbau masyarakat yang merasa sakit dengan gejala mirip Covid-19. Kalau hanya flu atau batuk saja, tidak perlu berbondong-bondong datang ke rumah sakit.

“Yang sakit ringan tidak usah ke rumah sakit. Yang flu, yang batuk, jangan langsung masuk RS. Karena layanan kesehatan kita sekarang dibutuhkan orang yang betul-betul terindikasi berat karena Covid-19,” ujarnya. (den/ang/iss)

Sumber
Suara Surabaya

happy wheels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares