“Menemukan Misteri di Bumi Khatulistiwa: Catatan Perjalanan ke Kabupaten Melawi” oleh Deni Frayoga, S.KM

Nanga Pinoh, 20 April 2016

 

11 April 2016, Selamat Datang di Bumi Khatulistiwa

Perjalanan kali ini saya berangkat ke Pontianak bersama rekan-rekan peneliti yang tergabung dalam tim Peneliti Riset Etnografi Kesehatan 2016. Tim terdiri dari 3 orang yaitu Mbak Choirum Latifah, SKM, M.Kes (Ketua Peneliti), saya sendiri Deni Frayoga, SKM (Peneliti Kesehatan) dan Putri Antika, S.Sos (Antropolog). Perjalanan kami ke tanah Kalimantan ini adalah dalam rangka persiapan lapangan untuk sebuah penelitian. Pontianak ini adalah gerbang awal yang harus dilalui untuk menuju ke lokasi penelitian.

Ada beberapa agenda yang kami lakukan di Kota Pontianak ini, pertama kami harus menuju Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kalimantan Barat. Hal ini adalah yang pertama karena pintu masuk perizinan ada di Bakesbangpol. Kantor Bakesbangpol Provinsi Kalimantan Barat terletak di komplek perkantoran Gubernur di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di belakang kantor Gubernur Kalimantan Barat. Kami berfikir bahwa akan lama proses perijinan ini, yah menaruh target 2 hari selesai. Tapi ternyata selesai pada hari itu juga, kami baru datang ke kantor Bakesbangpol pada pukul 11.00 WIB dan selesai pada pukul 15.30 WIB.

Selanjutnya kami harus menuju ke lokasi penelitian di Kabupaten Melawi. Perjalanan ke Kabupaten Melawi memakan waktu 10 jam perjalanan melalui darat dengan menggunakan Bis DAMRI.

Pada awalnya kami akan melakukan perjalanan ke Melawi pada malam hari, namun nampaknya Tuhan menyuruh kami untuk beristirahat terlebih dahulu di Kota Khatulistiwa ini. Tiket bis ke Melawi sudah habis untuk malam ini, dan kami baru bisa berangkat besok pagi jam 08.00 WIB. Akhirnya kami harus menginap di salah satu penginapan yang ada di Kota Pontianak, dan menikmati makan malam dengan sajian kuliner Pontianak.

 

12 April 2016, Jalan Berliku Menuju Melawi

Pagi yang cerah di Kota Pontianak membangunkanku untuk segera bergegas melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Melawi. Jarak Pontianak ke Nanga Pinoh ibukota Kabupaten Melawi adalah 500 KM dengan waktu tempuh 10 jam jika siang hari sedangkan jika malam hari 9 jam. Kami memulai perjalanan pada jam 08.00 WIB dari Kota Pontianak.

Gambar 1. Jalan Menuju Melawi Sebelum (atas) dan Sesudah Diaspal (bawah) Sumber: Pontianak Tribunnews

Gambar 1. Jalan Menuju Melawi Sebelum Diaspal 
Sumber: Pontianak Tribunnews

Gambar 2. Jalan Menuju Melawi Sebelum (atas) dan Sesudah Diaspal (bawah) Sumber: Pontianak Tribunnews

Gambar 2. Jalan Menuju Melawi Sesudah Diaspal
Sumber: Pontianak Tribunnews

Beberapa tahun lalu untuk menempuh Melawi harus melalui jalanan tanah di tengah-tengah hutan, bisa dibayangkan jika dalam kondisi hujan akan sangat kerepotan. Banyak mobil seperti bis dan truk yang kesulitan karena ban ambles pada tanah yang sudah basah. Namun sekarang untuk menempuh Melawi jalan sudah diaspal, meskipun jalanan masih banyak yang rusak dan berdebu.

Pemandangan sepanjang perjalanan sangat hijau, kami hanya melihat pemandangan hutan-hutan tropis. Ada juga dedaunan yang sudah kotor oleh debu jalan, memang jalan ini dahulunya adalah hutan tropis yang dibuka lahannya menjadi jalan penghubung antar kabupaten. Selain pemandangan hutan, disajikan pula dengan pemandangan sungai. Tidak dipungkiri bahwa Kalimantan adalah pulau seribu sungai memang benar kenyataannya. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya kami tiba di Nanga Pinoh ibukota Kabupaten Melawi pada pukul 18.00 WIB.

 

13-14 April 2016, Selamat Datang di Melawi

Pagi yang cerah mengawali semangat kami untuk segera memulai aksi persiapan lapangan di Kabupaten Melawi. Disajikan sarapan pagi dengan secangkir teh Melawi yang hangat nan manis, semanis senyuman orang Melawi dan kuliner yang sangat lezat. Kabupaten Melawi yang dahulu dikenal dengan sebutan Melawei memiliki luas daerah 10.640,80 km2, dan terdiri dari 11 kecamatan, diantaranya Nanga pinoh, Pinoh Selatan, Sokan, Belimbing Hulu, Belimbing,Tanah Pinoh Barat, Tanah Pinoh, Sayan, Ella hilir, Menukung, dan Pinoh Utara. Kabupaten Melawi secara geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten Kotawaringin Timur-Kalimantan Tengah (batas Selatan), Kabupaten Sintang (batas Utara dan Timur), dan Kabupaten Ketapang (batas Barat).

Gambar 3. Nanga Pinoh ibukota Kabupaten Melawi Sumber: melawikab.go.id

Gambar 3. Nanga Pinoh ibukota Kabupaten Melawi
Sumber: melawikab.go.id

Etnis penduduk asli Kabupaten Melawi adalah suku Dayak, Melayu dan Tionghoa Hakka. Suku Dayak di Kabupaten Melawi terdiri dari 20 jenis suku dayak, yaitu Dayak Kepuas, Dayak Senganan, Dayak Limbai, Dayak Barai, Dayak Linoh, Dayak Kebahan, Dayak Ingar Silat, Dayak Silath Muntok, Dayak Sane, Dayak Randu, Dayak Batu Entawa, Dayak Lamantawa, Dayak Keluas, Dayak Keninjal, Dayak Kubitn, Dayak Pangin, Dayak Nyadupm, Dayak Ella, Dayak Kenyilu, dan Dayak Ransa

 

Keramah tamahan Sejawat Tenaga Kesehatan

Pada hari ini kami langsung menemui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi, namun beliau saat ini sedang melaksanakan pertemuan di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. Kemudian dipertemukanlah kami dengan Sekretaris Dinas yaitu Bapak Paulus. Beliau sangat baik dan kooperatif dalam menyambut kami.

Setelah kami menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami ke Kabupaten Melawi ini dan menjelaskan mengenai Riset Etnografi Kesehatan (REK) maka kami dipertemukan dengan pejuang-pejuang tangguh di Dinas Kesehatan Melawi. Pertama kami dikenalkan dengan dr. Gunardi, beliau seorang Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi. Perkenalan dengan beliau mengantarkan pada pengenalan masalah kesehatan yang ada di Kabupaten Melawi. Beliau menjelaskan masalah-masalah kesehatan di Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi. Berdasarkan penjelasan tersebut maka pihak Dinas Kesehatan merekomendasikan lokasi penelitian kami di wilayah Puskesmas Sokan. Ada permasalahan kesehatan yang perlu diteliti dan juga dipecahkan dengan solusi untuk perbaikan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Puskesmas Sokan.

Tidak lama kemudian kami dikenalkan dengan Pak Arif, beliau seorang staf P2L di Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi. Beliau menjelaskan tentang masalah utama di Puskesmas Sokan yaitu kasus Lusung. Lusung atau dalam bahasa ilmiahnya Tinea Imbricata merupakan penyakit kulit yang bersumber jamur Trichophyton Concentricum, penyakit kulit ini bersifat tropikal, yaitu terjadi di daerah tropis dan lembab. Beliau juga menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Melawi sudah melakukan intervensi untuk pemecahan masalah tersebut melalui pembagian handuk, sabun, pengobatan masal dan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Perjuangan mereka untuk memberantas penyakit Lusung begitu berat, dan banyak tantangan. Mulai kesulitan akses jalan menuju desa-desa dengan kasus Lusung yang sulit, harus melewati jalan setapak yang terjal dan berbukit, melewati sungai yang arus airnya curam. Namun mereka tetap semangat berjuang untuk memberantas penyakit Lusung, demi memperbaiki derajat kesehatan masyarakat. Itulah mengapa penulis menyimpulkan bahwa mereka adalah pejuang-pejuang tangguh.

 

Misteri di Teluk Pongkal

Setelah penjelasan yang cukup panjang mengenai kasus Lusung di Sokan, Pak Arif memberikan rekomendasi desa untuk penelitian adalah di Desa Teluk Pongkan. Desa ini termasuk desa dengan kategori pelosok. Menempuh perjalanan darat ke Desa Teluk Pongkan memerlukan waktu sampai 6 jam dan hanya bisa menggunakan sepeda motor jenis trail. Medan jalannya sangat ekstrim, hanya ada jalan setapak melewati hutan tropis, bukit dan lembah. Alternatif jalan lain adalah menyusuri sungai denga melawan arus sungai yang cukup curam dengan menggunakan speed boat.

Gambar 4. Akses Transportasi Sungai menuju Desa Teluk Pongkal Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi

Gambar 4. Akses Transportasi Sungai menuju Desa Teluk Pongkal
Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi

Suatu kebetulan, hari ini ternyata Pak Wawan, Kepala Puskesmas Sokan, ada di kantor Dinas Kesehatan Melawi. Diskusilah kami dengan beliau, menanyakan kondisi Teluk Pongkal dan permasalahan yang ada, terutama yang berkaitan dengan kasus Lusung. Beliau menjelaskan kondisi lain di Teluk Pongkal yang ternyata di desa ini tidak ada listrik, apalagi sinyal untuk telepon seluler. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi kami tim peneliti.

Pak Wawan menjelaskan kasus penyakit Lusung di Desa Teluk Pongkal itu merupakan kasus yang sangat unik. Bagaimana tidak? Ada dalam 1 keluarga, ayah ibunya terkena Lusung tetapi anaknya sehat-sehat saja, padahal setiap hari kontak fisik. Tidur pun satu kasur, dan handuk pun digunakan bersamaan, tetapi tidak tertular.

Gambar 6. Kondisi Desa Teluk Pongka Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi

Gambar 5. Kondisi Desa Teluk Pongka
Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi

 

Ada asumsi masyarakat bahwa Lusung ini adalah penyakit sejenis yang berkaitan dengan ilmu supranatural atau magic. Pak Wawan menjelaskan bahwa isu yang beredar di masyarakat, Lusung tidak bisa disembuhkan di daerah lain, misal dibawa ke luar Kalimantan, karena diyakini bahwa sumbernya adalah dari Teluk Pongkal sendiri. Memang terdengar cukup misterius dan sedikit menakutkan, namun kami yakin setiap misteri pasti ada fakta ilmiahnya. Tugas kami adalah mengeksplorasi untuk menemukan fakta-fakta ilmiah di balik misteri di Teluk Pongkal. Desa Teluk Pongkal memang merupakan desa dengan kasus Lusung tertinggi dibandingkan dengan desa lainnya di wilayah Puskesmas Sokan, dan bahkan desa lainnya yang ada di Melawi. Berdasarkan data Bidang P2L Dinas Kesehatan Ka-bupaten Melawi, di Desa Teluk Pongkal tercatat ada 89 pasien Tinea imbricata (Lusung). Data tersebut hanya akumulasi sampai dengan bulan Mei 2015, untuk data terbaru sampai akhir 2015 masih belum terekap.

gambar 7. Penyakit Lusung/Tinea Imbricata yang diderita oleh masyarakat Teluk Pongkal. Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Melawi

Gambar 7. Penyakit Lusung/Tinea Imbricata yang diderita oleh masyarakat Teluk Pongkal.
Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Melawi

Desa Teluk Pongkal memang menjadi salah satu kandidat lokasi penelitian kami. Namun lokasi masih bisa berubah, masih ada ke-mungkinan ditempatkan di lokasi yang berbeda, mengingat kasus Lusung tidak hanya terjadi di Desa Teluk Pongkal, ma-sih ada desa lain di Kecamatan yang berbe-da, yang jumlah kasus-nya tidak terpaut jauh dengan Teluk Pongkal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Misteri bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diteliti agar dapat mengungkap fakta ilmiah di balik misteri.”

Salam #inspiringSKM

*Deni Frayoga, S.KM (Alumni Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin)

happy wheels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares